Risan BagjaDari peron ke peron
Risan Bagja sedang duduk di luar ruangan
— sedang pura-pura kerja di luar ruangan

Yang Sempat Saya Tulis

Saya selalu agak kesulitan menulis perkenalan. Baru selesai satu paragraf, ada saja yang sudah berubah. Dulu saya sering memotret kereta yang berhenti di peron, stasiun yang saya singgahi, bayangan gunung di kejauhan, ombak yang bergulung-gulung di samudra, garis pantai yang seolah tak bertepi, hutan pinus yang rapat, bangunan-bangunan di Kota Tua yang catnya mulai terkelupas, dan warna awan menjelang matahari terbenam. Sekarang, saat membuka galeri, yang paling ingin saya lihat justru senyum manis Dwi, istri saya, dan tingkah lucu Kinanti, putri kecil kami yang tak kenal lelah.

Saya masih suka membuka peta, kadang terlalu lama. Belakangan pertanyaannya makin spesifik: bagian mana dari Tour du Mont Blanc yang ramah untuk Kinanti, dan bagian mana yang sebaiknya kami lewati dengan kereta atau bus? Di sepanjang Danube Cycle Path dari Passau ke Wina, seberapa jauh jarak antarpenginapan dan di mana kami bisa berhenti makan? Saya mencari rute bersepeda yang aman untuk keluarga, jauh dari lalu lintas kendaraan bermotor, dan tak mengharuskan kami mendirikan tenda. Semuanya belum punya tanggal keberangkatan. Tapi ketika saatnya tiba, setidaknya rutenya sudah siap.

Saya suka naik kereta dan melihat apa saja yang lewat di luar jendela. Saya membayangkan perjalanan yang lebih jauh bersama Dwi dan Kinanti: turun di kota yang belum kami kenal, lalu mencari tempat makan atau beristirahat. Dengan Kinanti, rencana perlu punya cukup ruang untuk makan, tidur, atau duduk lebih lama di kafe kecil. Kalau akhirnya kami tidak melihat separuh tempat yang saya tandai di peta, mungkin lain kali. Peta itu masih bisa dibuka lagi.

Pagi atau sore, saat saya tidak terlampau sibuk, kami bertiga sering berjalan ke kafe-kafe kecil dekat rumah. Sepanjang jalan Kinanti menghabiskan tenaganya: menyapa anjing atau ayam yang kami temui, memetik dandelion yang tumbuh liar, lalu meniti tepian got seolah sedang ikut Ninja Warrior. Entah kenapa, berjalan ke kafe juga menjadi satu-satunya saat ia mau menghabiskan susunya. Sesampainya di sana, ia masih punya tenaga untuk bermain. Kami juga suka mencoba restoran yang kami temukan dari media sosial; meski kadang zonk, setidaknya rasa penasaran kami terobati.

Untuk sekarang, kami cukup hiking ke air terjun dekat rumah atau bersepeda ke kota tetangga. Sesekali kami naik kereta ke luar kota. Kadang ke Jakarta untuk melihat akuarium. Pernah juga semalam di Cirebon untuk bernostalgia, bersepeda keliling Pecinan di Semarang, melihat Candi Borobudur di Magelang, lalu mampir ke Solo untuk ketemu Jokowi wisata kuliner.

Pekerjaan saya belakangan melibatkan AI agents dalam jumlah yang mungkin sudah kelewatan; cerita soal itu saya taruh di tempat lain. Di sini ada perjalanan yang benar-benar terjadi, foto yang ingin saya simpan, buku-buku dari masa ketika saya lebih rajin membaca, dan hal kecil yang kebetulan ingin saya tulis. Sebagian ceritanya sudah lama sekali. Saya ingin mulai menambah cerita baru di sampingnya, kalau bisa sebelum rencana perjalanan berikutnya bertambah lagi.

Risan